Pemodelan Spasial dalam Penentuan Lahan Kritis di Kabupaten Sleman menggunakan Sistem Informasi Geografi

Pendekatan kuantitatif berjenjang tertimbang merupakan salah satu pendekatan yang dapat digunakan dalam analisis GIS. Pendekatan kuantitatif berjenjang tertimbang ini menggunakan skor dalam tiap parameternya sehingga parameter yang dianggap paling penting akan mendapatkan skor yang paling besar.

 

Peta lahan kritis dihasilkan melalui analisis dari beberapa parameter diantaranya produktivitas lahan kemiringan lereng, erosi, persentase batuan, dan manajemen lahan. Parameter produktivitas lahan dan manajemen lahan mendapat faktor pengali yang paling besar. Hal ini menandakan bahwa kedua faktor tersebut merupakan faktor yang paling memengaruhi tingkat kekritisan lahan. Lahan yang kritis merupakan lahan yang sudah tidak produktif lagi. Manajemen lahan memengaruhi produktivitas lahan. Parameter lereng merupakan parameter dengan faktor pengali terbesar ketiga. Lereng yang terjal memicu terjadinya lahan kritis akibat tingkat erosi yang tinggi. Lereng yang terjal juga potensial terjadinya longsor lahan yang menyebabkan sumberdaya lahan hilang. Parameter erosi sangat berkaitan dengan parameter longsor. Parameter terakhir adalah persentase batuan. Paramater ini berpengaruh dalam jangka waktu lama sehingga diberi faktor pengali yang paling kecil. Ketersediaan batuan di suatu wilayah akan memberikan peluang regenerasi lahan ketika terjadi pelapukan batuan menjadi tanah dalam jangka waktu yang lama.

 

Penentuan faktor pengali di tiap parameter dalam kuantitatif berjenjang tertimbang dilakukan dengan merujuk pada konsep-konsep yang telah ada, hasil penelitian terdahulu, atau melakukan penelitian mandiri dalam jangka waktu yang lama. Tiap parameter harus diuji terlebih dahulu seberapa besar pengaruhnya pada tema yang dipilih.

Peta Lahan Kritis Kabupaten Sleman

Peta lahan kritis Kabupaten Sleman hasil analisis kuantitatif berjenjang tertimbang menunjukkan Kecamatan Prambanan dan Kecamatan Seyegan merupakan kecamatan yang memiliki tingkat kekritisan lahan sangat tinggi. Hal ini dapat diakibatkan oleh alih fungsi lahan yang intensif dan manajemen lahan yang kurang baik. Secara keseluruhan, lahan yang ada di Kabupaten Sleman tergolong sangat tidak kritis. Fakta ini di dukung oleh adanya Gunungapi Merapi yang merupakan gunungapi aktif dalam memproduksi batuan dan abu untuk meremajakan atau meregenerasi lahan yang ada di Kabupaten Sleman.

 

Pendekatan kuantitatif berjenjang tertimbang dapat digunakan dalam berbagai aplikasi lainnya seperti pembuatan peta kerawanan banjir, longsor, dan lain-lain. Perbedaan tingkat pengaruh tiap parameter pada tema yang ingin dibuat menjadi perhatian yang paling utama dalam pendekatan kuantitatif berjenjang tertimbang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s