Penginderaan Jauh Multitemporal untuk Evaluasi Perubahan Luas Komposisi Habitat Bentik Akibat Tekanan Pariwisata di Pulau Menjangan Besar Kabupaten Jepara

Pariwisata saat ini menjadi salah satu sektor penunjang perekonomian daerah. Pariwisata sendiri dilandaskan pada keinginan manusia untuk menjelajah suatu tempat dan menikmati suasana baru akibat dari mobilisasi manusia. Pariwisata telah menjadi disiplin ilmu sendiri dan untuk mempelajarinya pariwisata dibedakan menjadi beberapa macam diantaranya wisata alam, wisata buatan, dan wisata minat khusus. Berkembangnya pariwisata yang begitu pesat ternyata memiliki dampak negatif terhadap lingkungan. Kurangnya pengelolaan pariwisata yang berkelanjutan menjadi penyebab dari dampak negatif pariwisata terhadap lingkungan.

Peran penginderaan jauh ditemukan sangat besar terkait permasalahan pariwisata. Peran penginderaan jauh ini dapat berupa kajian multitemporal dalam mengawasi perubahan yang terjadi di permukaan bumi. Melalui analisis multitemporal ini kemudian dapat diketahui kerusakan atau perubahan yang telah terjadi di suatu tempat dalam suatu rentang waktu tertentu.

Pulau Menjangan Besar merupakan salah satu pulau yang termasuk ke dalam Kepulauan Karimunjawa Kabupaten Jepara. Pulau ini terletak di sebelah utara Pulau Jawa yang dicirikan dengan kondisi perairan yang tenang sehingga memungkinkan untuk pertumbuhan habitat bentik seperti terumbu karang secara optimal. Pulau Menjangan Besar menjadi salah satu destinasi wisata alam dan bahari di Pulau Jawa yang tengah mengalami peningkatan kegiatan pariwisata (meningkatnya jumlah pengunjung). Peningkatan jumlah wisatawan ini diduga memberikan dampak terhadap habitat bentik di Pulau Menjangan Besar. Untuk melakukan analisis perubahan habitat bentik di Pulau Menjangan Besar ini dilakukan analisis multitemporal untuk mengetahui perubahan luas komposisi habitat bentik di Pulau Menjangan Besar.

Citra yang digunakan adalah citra penginderaan jauh resolusi tinggi tahun 2004 dan citra penginderaan jauh resolusi tinggi tahun 2012 yang sudah memiliki koordinat. Langkah awal dalam pemrosesan citra penginderaan jauh ini dilakukan terlebih dahulu koreksi geometrik dengan acuan citra penginderaan jauh resolusi tinggi tahun 2012. Teknik yang digunakan dalam koreksi geometrik ini adalah image-to-image registration karena yang dijadikan acuan koreksi berupa citra penginderaan jauh. Teknik ini dilakukan dengan meregistrasi suatu objek pada citra penginderaan jauh 2004 melalui koordinat dengan objek yang sama pada citra acuan. RMS error merupakan patokan dalam menentukan kualitas koreksi geometrik yang dilakukan. Umumnya RMS error yang baik berada di bawah angka 0.5 namun karena keterbatasan waktu RMS error yang digunakan sebesar 0.9 dengan asumsi RMS error yang diterima di bawah angka 1 dengan jumlah registrasi koordinat sebanyak 16 titik.

1

Koreksi geometrik ini dirasa kurang memberikan kesiapan matang terhadap citra yang diolah karena tidak dilakukan koreksi radiometrik maupun atmosferik untuk meningkatkan kualitas citranya. Hal ini nantinya akan mempengaruhi hasil akhir dari analisis multitemporal ini. Untuk dapat dianalisis secara lebih lanjut citra yang digunakan perlu melewati tahap masking. Masking ini ditujukan agar kawasan yang dianalisis pada software pengolah citra penginderaan jauh hanya kawasan perairan yang terdapat habitat bentiknya saja. Proses ini menggunakan interpretasi visual untuk membedakan garis pantai dan laut.

Klasifikasi multispektral merupakan langkah yang cukup penting untuk mendapatkan analisis perubahan lahan bentik melalui citra penginderaan jauh. Klasifikasi multispektral yang digunakan menggunakan klasifikasi supervised dengan algoritma Maximum Likelihood. Algoritma ini nantinya akan mengklasifikasikan tiap kelas habitat bentik berdasarkan training area (ROI) yang dimasukkan beserta lokasinya. Biasanya suatu kenampakan yang berdekatan akan diklasifikasikan sebagai kelas habitat yang sama. Kelas habitat yang dianalisis pada praktikum ini adalah terumbu karang, padang lamun, makro alga, dan pasir. Dalam penentuan training area (ROI) tiap kelas habitat bentik ini dilakukan dengan interpretasi visual sebagai pendekatan dalam menentukan tiap kelas habitat bentik. Hasil klasifikasi multispektral habitat bentik Pulau Menjangan Besar dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Hasil klasifikasi multispektral habitat bentik dua tahun berbeda tersebut diatas menunjukkan terdapat perubahan habitat bentik. Perubahan ini dapat dianalisis dengan mengetahui luasan habitat bentik di tiap tahunnya. Langkah ini dapat dilakukan dengan menggunakan software ArcGIS dengan melihat atribut luasannya. Identifikasi luasan habitat bentik dan perubahannya dapat pula dilakukan dengan menggunakan software IDRISI. Secara spasial dapat dilihat pada peta perubahan lahan bentik yang terdapat di lampiran ini.

Tabel luasan dan matriks perubahan habitat bentik di atas menunjukkan bahwa perubahan luasan habitat bentik di Pulau Menjangan Besar benar adanya. Perubahan ini dapat disebabkan oleh karena aktivitas manusia ataupun faktor alam. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh aktivitas manusia terhadap perubahan ini dilakukan analisis grafik hubungan antara luas terumbu karang dan padang lamun dengan jumlah wisatawan tahun 2004 dan 2012.

Kedua grafik tersebut diatas memiliki pola yang berbeda. Terdapat hubungan positif pada grafik terumbu karang dimana peningkatan jumlah wisatawan menyebabkan peningkatan luasan terumbu karang. Secara logis kedua variabel tersebut menjadi tidak memiliki korelasi. Pertambahan jumlah wisatawan tidak mungkin memberikan dampak pada pertambahan luasan terumbu karang. Melalui analisis penginderaan jauh ini proses klasifikasi multispektral menjadi kunci utama kesalahan analisis ini. Selain kesalahan pada klasifikasi multispektral, hal ini dapat pula disebabkan akibat koreksi radiometrik dan atmosferik yang tidak dilakukan sehingga memberikan rona yang berbeda dan mengganggu proses klasifikasi. Walaupun demikian, penambahan luasan terumbu karang dapat saja terjadi karena peningkatan kondisi lingkungan sekitarnya yang menyebabkan perkembangan terumbu karang yang optimal dalam jumlah tertentu namun bukan karena disebabkan oleh pertambahan jumlah wisatawan. Berbeda dengan pola grafik terumbu karang, grafik padang lamun menunjukkan pola yang negatif. Grafik tersebut menunjukkan pertambahan jumlah wisatawan menyebabkan pengurangan luasan padang lamun. Fakta ini dapat menjadi dasar dalam manajemen jumlah wisatawan agar kerusakan lingkungan seperti ini tidak terjadi. Namun, tetap ada kemungkinan lain perubahan luasan padang lamun ini disebabkan oleh faktor alam ataupun kesalahan dalam analisis pengolahan citra digital.

Pengembangan dan pengelolaan wilayah pesisir dan kelautan saat ini sangat dibutuhkan terlebih di Indonesia dengan sumberdaya kelautan dan pesisir yang sangat banyak. Peran penginderaan jauh seperti yang telah dilakukan pada praktikum ini dapat memberikan gambaran utama secara kasar tetapi sangat membantu dalam arahan pengembangan dan pengelolaan wilayah pesisir dan kelautan. Kualitas SDM penginderaan jauh dan perkembangan teknologi menjadi dua komponen pendukung yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan wilayah pesisir dan kelautan dengan menggunakan teknologi penginderaan jauh.

Peta Perubahan Habitat Bentik Pulau Menjangan Besar Tahun 2004 dan 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s