Matrik Analisis Konflik Ruang Kabupaten Bantul

Permasalahan tata ruang biasanya semakin banyak terjadi terkait penggunaan ruang. Konflik ini sangat sering terjadi sehingga menjadi kajian khusus yang terus diperhatikan. Adanya masalah seputar penggunaan ruang biasanya dikarenakan ruang yang ditata dalam suatu model perencanaan adalah berupa ruang eksisting (telah ada sebelumnya). Ideologi negara juga biasanya turut mempengaruhi drama penataan ruang ini, terlebih di Indonesia karena menganut paham demokrasi, dimana pemerintah tidak memiliki kuasa yang penuh. Hal ini yang menyebabkan penataan ruang biasanya sangat berhasil di negara-negara sosialis.

Potensi konflik penggunaan ruang dapat disajikan dalam bentuk matriks. Data yang digunakan adalah data peta pola ruang, dan penggunaan lahan (eksisting). Data ini dilihat kesinambungan keduanya apakah saling mendukung atau saling bertentangan. Variabel yang digunakan untuk pola ruang adalah kawasan permukiman perkotaan, pertanian lahan kering, pertanian lahan basah, hutan produksi terbatas, dan budidaya lainnya, sedangkan untuk penggunaan lahan menggunakan variabel sawah irigasi, tegalan, tubuh air, kebun, hutan, pasir darat, rumput, permukiman, belukar, sawah tadah hujan, pasir pantai, dan rawa. Kelemahan dalam analisis pada tulisan ini adalah perbedaan skala peta yang digunakan sehingga tingkat akurasi tiap variabelnya tidak sesuai.

Dalam matriks hasil analisis untuk wilayah Kabupaten Bantul dapat dilihat bahwa sebagian besar penggunaan lahan dan pola ruang saling mendukung, namun ada pula beberapa hubungan yang bertentangan seperti yang terdapat pada hutan produksi terbatas. Hutan produksi terbatas ini merupakan hutan yang memiliki keadaan khusus, dapat berupa hutan yang berada pada lereng terjal atau memiliki biodiversitas yang tinggi sehingga disarankan untuk produksi terbatas. Hutan produksi terbatas ini seharusnya sama sekali tidak dapat dijadikan sawah irigasi, tegalan, kebuh, pasir darat, permukiman, dan kawasan budidaya lainnya.

Ketersediaan ruang dan kebutuhan ruang adalah dua aspek pemicu terjadinya konflik penggunaan ruang. Ketika tidak dilakukan penataan ruang dan regulasi yang baik, maka kawasan-kawasan yang difungsikan untuk kelestarian alam dapat terpakai secara langsung maupun tidak langsung untuk memenuhi kebutuhan ruang. Baca juga Analisis Daya Tampung dan Alokasi Ruang Kabupaten Bantul.

sekian

Konsistensi antara penggunaan lahan eksisting terhadap RTRW pada peta yang digunakan di tulisan ini diperkirakan baik. Keadaannya dapat dilihat dimana sebagian besar penggunaan lahan eksisting Kabupaten Bantul adalah sawah irigasi dan permukiman, tetapi tidak banyak yang berada pada kawasan hutan produksi terbatas. Lokasi sawah irigasi yang berada di kawasan permukiman, pertanian, dan budidaya lainnya saling mendukung fungsi sehingga hal ini sangat konsisten. Secara keseluruhan peta rtrw Bantul terbilang baik karena tidak terdapat penggunaan lahan yang sangat bertentangan dengan RTRWnya. Namun, analisis ini terkendala oleh skala pemetaan sehingga analisis ini belum tentu akurat. Skala pemetaan sangat berkaitan dengan tingkat kedetilan peta, sehingga ketika terdapat perbedaan skala dan perbedaan tingkat kedetilan maka dapat terjadi kesalahan dalam analisis.

LAMPIRAN

DIYrtrw

Peta Penggunaan Lahan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s