Analisis Struktur dan Hirarki Wilayah Kabupaten Bantul menggunakan Indeks Sentralitas, Analisis Gravitasi, dan Analisis Konektivitas

  1. Pendahuluan

Menurut UU No. 26 tahun 2007 struktur ruang wilayah adalah susunan pusat-pusat permukiman dan sistem jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang secara hierarkis memiliki hubungan  fungsional. Struktur ruang berfungsi sebagai pengarah dan pembentuk suatu wilayah, dan merupakan salah satu komponen dalam rencana tata ruang dan tata wilayah.

Struktur ruang yang berupa pusat hierarkis sangat dipengaruhi oleh keberadaaan distribusi penduduk, infrastruktur, pusat-pusat kegiatan, permukiman, dan sistem kota-kota. Dalam struktur ruang wilayah terdapat beberapa aspek diantaranya (Muta’ali, Teknik Analisis Regional untuk Perencanaan Wilayah, Tata Ruang, dan Lingkungan, 2015) :

  1. Hirarki wilayah

Didasarkan pada jumlah penduduk dan fasilitas pelayanan. Sistem hirarki mencerminkan adanya hirarki kota, spesialisasi fungsi, dan sistem keterkaitan (pelayanan, produksi, distribusi, orientasi pergerakan)

  1. Sistem kota-kota

Sekelompok kota-kota yang saling tergantung satu sama lain secara fungsional dalam suatu wilayah dan berpengaruh terhadap wilayah sekitarnya. Berisi tentang distribusi kota, indek dan keutamaan kota serta fungsi kota.

  1. Fungsi wilayah

Pengembangan kota berdasarkan fungsi yaitu (1) pusat pelayanan wilayah belakang (hinterland service), (2) pusat komunikasi antar wilayah (interregional communication), (3) pusat kegiatan industri, dan (4) pusat permukiman

  1. Pusat-pinggiran

Struktur ruang wilayah melahirkan konsep center-periphery (pusat-pinggiran), yaitu adanya kota utama (hirarki tinggi) dan wilayah sekitarnya yang menjadi inti (core), serta pinggiran (periphery) yang berada di luar serta bergantung pada inti. Perkembangan disebarkan dari center ke pinggiran melalui pertukaran penduduk, barang, dan jasa. Kota dan wilayah dengan hirarki tinggi sebagai inti memiliki pengaruh atas wilayah pinggirannya. Hubungan antara core dengan periphery dilukiskan dengan dua efek, yaitu efek sebar “spread effect” dari pusat ke pinggiran dan kedua efek serap balik “backwash effect” dari pinggiran ke pusat. Pusat pertumbuhan akan berpengaruh pada daerah belakangnya melalui efek polarisasi (dari pinggiran ke pusat) dan efek penetesan ke bawah dari pusat ke pinggiran (trickling down effect). Polarization effect diperkuat dengan adanya pemusatan investasi pada pusat pertumbuhan, sedangkan trickling down effect dapat tumbuh dengan cara meningkatkan daya tarik wilayah sekitarnya.

  1. Keterkaitan dan konektivitas

Dapat menunjukkan tingkat keterpusatan dan hirarki kota-kota. Beberapa keterkaitan yang dapat diidentifikasi antara lain keterkaitan fisik (transportasi), keterkaitan demografis (mobilitas penduduk), sosial budaya, ekonomi, dan administrasi. Douglas (1998) menyebutkan lima tipe arus keterkaitan kegiatan ekonomi tersebut, yaitu: people, production, commodities; capital dan information.

 

Terdapat tiga batasan struktur ruang menurut hierarkinya khususnya dari provinsi, kabupaten, dan kota. Substansi pertama dalam struktur ruang adalah rencana sistem perkotaan wilayah dan rencana sistem jaringan prasarana wilayah. Kata kunci di dalam menggambarkan struktur pemanfaatan ruang adalah gambaran mengenai hubungan keterkaitan (linkages) antara aspek-aspek aktivitas-aktivitas pemanfaatan ruang. Salah satu wujud pendeskripsian wilayah sebagai suatu sistem adalah aspek struktur hubungan antar komponen-komponen yang ada di dalam wilayah tersebut. Deskripsi interaksi antar komponen wilayah yang paling umum adalah aliran penduduk antar wilayah atau pusat-pusat konsentrasi wilayah, yang sering digambarkan dengan aliran arus perjalanan (trips) dan migrasi (Muta’ali, Penataan Ruang Wilayah dan Kota (Tinjauan Normatif – Teknis), 2013).

 

 

  1. Isi

Struktur dan hirarki wilayah yang dianalisis adalah Kabupaten Bantul. Dalam analisisnya ini digunakan beberapa pendekatan diantaranya indek sentralitas, analisis gravitasi, dan analisis konektivitas. Indek sentralitas menggunakan jumlah penduduk, dan fungsi sarana dan prasarana. Melalui indek ini dapat diketahui daerah dengan fungsi pelayanan terbesar yang menjadi sentral dari Kabupaten Bantul. Selanjutnya analisis gravitasi dilakukan dengan menggunakan jumlah penduduk dan jarak antar kecamatan. Melalui analisis gravitasi ini, dapat diketahui kecamatan dengan daya tarik tertinggi dibandingkan kecamatan lainnya, yang dapat dijadikan sebagai dasar penentuan pusat aktivitas dari Kecamatan Bantul. Kemudian analisis konektivitas dilakukan dengan menggunakan data letak ibu kota kecamatan, dan jaringan jalan. Melalui analisis konektivitas dapat diketahui kecamatan dengan konektivitas paling baik antar kecamatannya. Analisis-analisis tersebut menjadi dasar dalam penentuan kecamatan yang cenderung menjadi pusat dari Kabupaten Bantul. Ketika mengetahui pusat, maka dapat pula diketahui kecamatan hiterlandnya. Antar pusat dan hinterland ini akan terjadi interaksi berupa spread effect dan backwash effect.

34Tabel diatas menunjukkan proses dalam penentuan hirarki wilayah berdasarkan fungsi pelayanannya. Berdasarkan formula yang digunakan, kecamatan yang masuk ke dalam hirarki 1 adalah kecamatan dengan total fasilitas paling banyak seperti Kecamatan Sewon. Kecamatan dengan jumlah fasilitas paling sedikit akan masuk ke dalam hirarki IV seperti Kecamatan Pajangan.

Jumlah fasilitas yang kemudian mempengaruhi hirarki tiap kecamatan ini biasanya dipengaruhi oleh jumlah penduduk. Asumsinya, kecamatan dengan jumlah penduduk yang banyak akan memiliki fasilitas yang banyak pula. Namun, jumlah penduduk bukanlah faktor tunggal dalam pengadaan fasilitas, khususnya di Kabupaten Bantul. Terdapat dua kecamatan dengan jumlah penduduk lebih besar daripada Kecamatan Sewon, yaitu Kecamatan Banguntapan dan Kecamatan Kasihan, namun jumlah fasilitas yang berada di kecamatan tersebut tidak lebih banyak dari Kecamatan Sewon. Hal ini dapat diakibatkan oleh pengaruh pertumbuhan ekonomi, dan konektivitas atau aksesibilitas yang terdapat di kecamatan tersebut.

Hirarki 1 berperan sebagai pusat dalam suatu wilayah, dalam hal ini Kecamatan Sewon. Kecamatan Sewon yang masuk ke dalam hirarki 1 di Kabupaten Bantul akan senantiasa melayani kecamatan pinggiran. Keterbatasan fasilitas di kecamatan dengan hirarki 3 maupun hirarki 4 akan mengakibatkan ketergantungan pada fasilitas di hirarki 1. Kecamatan dengan hirarki 4 terdiri dari Kecamatan Dlingo, Kecamatan Imogiri, Kecamatan Kretek, Kecamatan Pajangan, Kecamatan Pundong, Kecamatan Sanden, dan Kecamatan Sedayu. Kecamatan-kecamatan tersebut secara geografis memang berada di pinggiran, sehingga ketersediaan fasilitas biasanya tidak memadai.

5

Tabel di atas menunjukkan total interaksi wilayah menggunakan analisis gravitasi. Analisis gravitasi menggunakan jarak antar kecamatan dan jumlah penduduk. Berdasarkan analisis ini, kecamatan dengan interaksi paling banyak menunjukkan pusat dari wilayah tersebut. Interaksi paling banyak berarti aliran masyarakat, barang, dan jasa antar kecamatan akan paling banyak terjadi di kecamatan dengan interaksi paling banyak. Berdasarkan analisis gravitasi yang telah dilakukan, ditemukan Kecamatan Sewon memiliki interaksi yang paling tinggi. Kecamatan dengan interaksi yang tinggi ditemukan pula di Kecamatan Banguntapan dan Kecamatan Kasihan.

Jumlah penduduk merupakan faktor yang paling berpengaruh dalam interaksi di Kabupaten Bantul. Dapat dilihat adanya korelasi, dimana jumlah penduduk yang lebih tinggi akan memiliki total interaksi yang lebih tinggi. Perbedaan interaksi akan terjadi ketika jarak dari suatu kecamatan ke kecamatan lain berbeda. Kecamatan dengan jumlah penduduk yang sama tetapi memiliki posisi (jarak) yang berbeda akan memiliki total interaksi ke kecamatan lain yang berbeda pula. Semakin berada di pusat, maka total interaksinya akan semakin tinggi. Hal ini lah yang mendasari penentuan pusat dan hinterland menggunakan analisis gravitasi.

Hasil analisis gravitasi ternyata tidak menunjukkan hasil yang berbeda dengan analisis fungsi pelayanan sebelumnya. Kecamatan Sewon merupakan pusat paling utama berdasarkan interaksinya dalam analisis gravitasi maupun analisis fungsi pelayanan sebelumnya. Karena Kecamatan Sewon memiliki interaksi yang paling tinggi, maka memang sudah sewajarnya jumlah fasilitas akan berada paling banyak di Kecamatan Sewon.

6

Tabel di atas menunjukkan analisis konektivitas menggunakan konig dan shimbel. Berbeda dengan analisis-analisis sebelumnya, nilai terendah pada analisis ini menunjukkan pusat dari wilayah tersebut. Nilai yang semakin rendah menunjukkan bahwa konektivitas kecamatan tersebut ke kecamatan yang lain akan semakin  kuat. Analisis ini tidak menggunakan data penduduk, melainkan data jalan utama dan pusat kecamatan. Jalan merupakan kunci dalam konektivitas. Konektivitas akan terjadi ketika terdapat jalan yang menghubungkannya sehingga terjadi aliran barang dan jasa. Berdasarkan hasil analisis, ditemuukan bahwa kecamatan dengan konektivitas paling kuat adalah Kecamatan Sewon. Nilai shimbel yang paling besar menandakan kecamatan dengan keterjangkauan yang paling sulit dibanding kecamatan lainnya. Pusat dan hinterland dari suatu wilayah dapat dilihat secara spasial. Representasi spasial dari ketiga analisis ini dapat dilihat pada peta di bawah ini.

Peta hirarki kabupaten bantul

Peta interaksi kabupaten bantul

Peta pertama menunjukkan lokasi dari kecamatan dengan hirarkinya. Simbolisasi gradasi warna digunakan untuk merepresentasikan hirarki. Hirarki 1 disimbolkan dengan warna paling gelap sedangakan hirarki 4 dengan warna yang lebih terang. Secara spasial dapat dilihat bahwa kecamatan dengan hirarki 1 dan 2 berada di Kecamatan Sewon, Kecamatan Bantul dan Kecamatan Banguntapan yang lokasinya berdekatan. Ketiga kecamatan ini menjadi pusat dalam analisis fasilitas pelayanan. Sedangkan kecamatan pinggiran terdiri dari Kecamatan Sedayu, Kecamatan Pajangan, Kecamatan Dlingo, Kecamatan Imogiri, Kecamatan Pundong, Kecamatan Kretek, dan Kecamatan Sanden. Keterpusatan ini juga ternyata dapat dikorelasikan dengan bentuk jalan yang menjadi pusat-pusat fasilitas pelayanan di Kabupaten Bantul.

Peta kedua merupakan visualisasi interaksi antar kecamatan dengan semua analisis. Dapat dilihat kembali berdasarkan penjelasan sebelumnya bahwa kecamatan dengan fungsi sebagai pusat adalah kecamatan dengan hirarki 1, nilai shimbel yang rendah dan nilai interaksi yang tinggi. Nilai shimbel direpresentasikan dalam bentuk lingkaran, semakin kecil lingkaran maka semakin menunjukkan kecamatan tersebut sebagai pusat. Nilai interaksi direpresentasikan dengan persegi panjang, semakin besar ukurannya menunjukkan semakin kuat interaksi kecamatan tersebut yang kemudian menunjukkan pusat wilayah tersebut. Hasil dari analisis sentralitas, gravitasi, dan interaksi ini berbanding lurus. Tidak ada hasil analisis yang menentang hasil dari analisis lain, sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa wilayah yang paling strategis untuk menjadi pusat Kabupaten Bantul adalah Kecamatan Sewon.

 

  1. Penutup

Pusat dan hinterland suatu wilayah menjadi komponen penting dalam perencanaan pengembangan wilayah. Penentuan sentralitas, keterkaitan, dan interaksi ini menjadi dasar dalam penentuan struktur ruang yang akan membentuk wilayah tersebut. Berdasarkan analisis indeks sentralitas, analisis gravitasi, dan analisis interaksi dapat ditemukan kecamatan yang paling strategis untuk menjadi pusat Kabupaten Bantul yaitu Kecamatan Sewon.

Daftar Pustaka

Muta’ali, L. (2013). Penataan Ruang Wilayah dan Kota (Tinjauan Normatif – Teknis). Yogyakarta: Badan Penerbit Fakultas Geografi (BPFG).

Muta’ali, L. (2015). Teknik Analisis Regional untuk Perencanaan Wilayah, Tata Ruang, dan Lingkungan. Yogyakarta: Badan Penerbit Fakultas Geografi (BPFG).

 

One thought on “Analisis Struktur dan Hirarki Wilayah Kabupaten Bantul menggunakan Indeks Sentralitas, Analisis Gravitasi, dan Analisis Konektivitas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s