Analisis Daya Tampung dan Alokasi Ruang Kabupaten Bantul

  1. Pendahuluan

Ketersediaan ruang merupakan isu utama dalam penataan ruang. Fungsi penataan ruang dapat muncul salah satunya karena akibat dari permasalahan ketersediaan ruang di permukaan bumi. Makhluk hidup yang paling berkuasa atas pemakaian ruang di bumi, baik ruang darat, laut, udara, maupun ruang di dalam bumi adalah manusia. Makhluk hidup lain yang sangat memerlukan ruang di permukaan bumi juga masih ada, seperti hewan, tumbuhan, fungi, dsb. Kompleksitas pemakaian ruang ini menjadi latar belakang lahirnya penataan ruang. Baca juga Matrik Analisis Konflik Ruang Kabupaten Bantul.

Permasalahan ruang semakin bertambah saat jumlah penduduk semakin bertambah. Pertambahan penduduk ini menyebabkan kebutuhan ruang dan sumberdaya meningkat. Kebutuhan ruang utama yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat adalah ruang untuk bertempat tinggal. Tempat tinggal merupakan kebutuhan primer bagi manusia dan satu jaminan berlangsungnya kehidupan yang aman. Disaat penduduk semakin banyak, permintaan sumberdaya pangan juga ikut meningkat sementara ruang semakin sempit. Permasalahan ini menjadi perhatian masyarakat internasional.

Separuh penduduk dunia saat ini tinggal di perkotaan. Diprediksikan persentase penduduk dunia yang tinggal di perkotaan akan terus meningkat. Fakta ini menunjukkan bahwa akan terjadi urban sprawl akibat daya tampung kota yang semakin sempit. Perkotaan akan memakan sumberdaya lahan sehingga sumberdaya pertanian, tanaman pangan, kawasan lindung, dan lainnya akan habis terganti dengan lahan jasa, permukiman, dsb.

Pertumbuhan masyarakat perkotaan paling tinggi terjadi di negara berkembang karena sedang dalam proses pembangunan. Indonesia sebagai negara berkembang memiliki peningkatan ekonomi yang signifikan sehingga sumberdaya lahan menjadi masalah utama di Indonesia. Analisis ketersediaan lahan dan penyediaan sumberdaya manusia yang dapat menata ruang Indonesia yang lebih baik sangat dibutuhkan untuk menjamin pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

 

  1. Isi

Daerah yang digunakan dalam analisis ketersediaan ruang adalah Kabupaten Bantul. Data yang digunakan adalah jumlah penduduk Kabupaten Bantul tiap kecamatan tahun 2012, luas daerah, luas permukiman dan bangunan, luas lahan sawah, luas lahan hutan, pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan penduduk.

Analisis ketersediaan ruang adalah bersifat temporal. Prediksi kebutuhan ruang yang dilakukan pada rentang waktu 10 tahun dan 20 tahun. Untuk mengetahui daya tampung ruang pada waktu tertentu maka harus diprediksikan terlebih dahulu jumlah penduduk pada tahun terkait, dan perkiraan tambahan kebutuhan ruang perumahan, sarana prasarana, industri, dan jasa.

Hasil analisis daya tampung pada tahun 2022 dan tahun 2032 didapatkan dengan membandingkan total kebutuhan ruang pada tahun tersebut dengan ketersediaan ruang saat ini. Melalui formula ini hendak diketahui seberapa besar kondisi ruang saat ini dapat menampung kebutuhan ruang pada tahun 2022 dan 2032. Melalui daya tampung ini kemudian diberi arahan dalam pengembangan atau alokasi ruang. Alokasi ruang dapat berupa ekstensifikasi dan intensifikasi. Teknik intensifikasi yaitu mengalokasikan tambahan kebutuhan ruang pada alokasi ruang yang telah ada dengan cara pemadatan fungsi dan kegiatan secara lebih intensif, contohnya pembangunan vertikal. Teknik ekstensifikasi yaitu mengalokasikan tambahan kebutuhan ruang secara ekstensif dengan cara menjalar ke arah horizontal atau mengalokasikannya secara ekstensif dengan cara meloncat pada lokasi lain di luar fungsi dan kegiatan yang telah ada (ke arah lokasi baru).

12

 

Tabel di atas merupakan hasil pengolahan dari analisis ketersediaan ruang dan kebutuhan ruang Kabupaten Bantul tahun 2022 dan 2032. Kebutuhan rumah didasarkan pada jumlah penduduk di tiap kecamatan. Asumsi yang digunakan adalah tiap rumah terdiri dari 6 (orang) penduduk. Melalui asumsi ini sudah sangat jelas bahwa kecamatan dengan jumlah penduduk yang paling banyak akan membutuhkan lahan perumahan yang lebih besar. Jumlah penduduk terbesar di Kabupaten Bantul terdapat di Kecamatan Banguntapan, Kecamatan Kasihan, dan Kecamatan Sewon. Karena tiap keluarga tidak akan mendirikan rumah dengan ukuran yang sama, maka digunakan pula asumsi tiga tipe rumah berdasarkan luasannya. Tipe rumah besar diperkirakan membutuhkan lahan sebesar 1200 m2 , tipe rumah menengah membutuhkan lahan sebesar minimal 600 m2 dan tipe rumah kecil membutuhkan lahan sebesar minimal 300 m2. Tiap rumah yang telah berdiri sudah sewajarnya akan membutuhkan fasilitas sarana prasarana. Asumsi yang digunakan dalam pengalokasian lahan untuk sarana prasarana adalah 10% dari total luas kebutuhan lahan perumahan di tiap kecamatan. Jumlah ini menyiratkan bahwa tiap fasilitas maksimal melayani sebesar 10% dari total pengguna fasilitas di suatu kecamatan.

Kebutuhan ruang utama lainnya adalah ruang ekonomi. Ruang ekonomi yang digunakan pada analisis ini adalah pertanian, industri, dan jasa. Analisis kebutuhan ruang didasarkan pada pertumbuhan ekonomi di tiap kecamatan. Melalui formula tersebut dapat diketahui bahwa kecamatan dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah akan membutuhkan ruang ekonomi yang lebih besar karena ruang untuk menumbuhkan kegiatan ekonominya di tahun 2022 dan 2032 akan semakin besar. Perencanaan kebutuhan ruang ekonomi yang lebih tinggi ini juga ditujukan untuk meningkatkan PDRB daerah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. kecamatan dengan pertumbuhan ekonomi paling tinggi seperti Kecamatan Bantul akan membutuhkan ruang ekonomi yang lebih sedikit karena telah ada kegiatan ekonomi yang cukup memadai di kecamatan tersebut. Untuk analisis daya tampung lebih lanjut, kebutuhan ruang yang digunakan hanya industri dan jasa saja. Ruang untuk kegiatan pertanian tidak diperhitungkan karena sektor pertanian merupakan sektor yang kemungkinan akan ditinggalkan di tahun mendatang seperti di beberapa negara maju. Namun, untuk perencanaan ketahanan pangan daerah, sektor pertanian dapat dimasukkan untuk kegiatan perencanaan pola ruang.

Analisis akhir yaitu daya tampung yang dihasilkan dari perbandingan antara total kebutuhan ruang dengan ketersediaan ruang saat ini di Kabupaten Bantul. Nilai di atas 1 (satu) menunjukkan masih terdapat kemampuan dalam menampung dan mengakomodasi perkembagnan wilayah, sedangkan nilai di bawah 1 (satu) menunjukkan bahwa wilayah tersebut tidak mampu menampung dan mengakomodasi perkembangan wilayah. Daerah yang sudah tidak mampu menampung dan mengakomodasi perkembangan wilayah pada tahun 2022 adalah Kecamatan Sanden, Kecamatan Bantul, Kecamatan Banguntapan, Kecamatan Sewon, dan Kecamatan Kasihan. Lima kecamatan tersebut adalah kecamatan dengan pertumbuhan ekonomi dan penduduk yang paling tinggi di Kabupaten Bantul. Jika dilihat pada data mentah, pertumbuhan ekonomi Kecamatan Sanden masih berada di bawah pertumbuhan ekonomi Kecamatan Imogiri, Kecamatan Piyungan, dan Kecamatan Sedayu. Namun, pertumbuhan penduduk Kecamatan Sanden masih melebihi beberapa kecamatan tersebut dan memiliki luas wilayah yang lebih sedikit. Pertumbuhan penduduk dan ekonomi di Kecamatan Sanden ini juga dipengaruhi oleh karena daya tarik di kecamatan ini dalam sektor pariwisata dan perikanan. Pada tahun 2032 terdapat beberapa kecamatan tambahan yang masuk ke dalam golongan tidak mampu menampung dan mengakomodasi perkembangan wilayah seperti Kecamatan Bambanglipuro, Kecamatan Jetis, Kecamatan Pleret, dan Kecamatan Piyungan. Kecamatan Sedayu dengan pertumbuhan ekonomi terbesar kelima di Kabupaten Bantul masih dapat menampung dan mengakomodasi perkembangan wilayah karena pertumbuhan penduduknya yang sangat rendah dan ketersediaan ruang yang lebih luas dibanding kecamatan lainnya di Kabupaten Bantul. Representasi analisis alokasi ruang Kabupaten Bantul secara spasial dapat dilihat pada peta di bawah ini.

alokasiiruang
Peta Rekomendasi Teknik Alokasi Ruang Kabupaten Bantul Tahun 2022
alokasiruang2032
Peta Rekomendasi Teknik Alokasi Ruang Kabupaten Bantul Tahun 2032

Kedua peta di atas menunjukkan teknik alokasi ruang pada tahun 2022 dan 2032. Alokasi ruang intensifikasi dilakukan pada kecamatan yang sudah tidak mampu atau mengakomodasi perkembangan wilayah. Intensifikasi dapat dilakukan dengan perubahan pemanfaatan lahan atau pemadatan fungsi lahan. Pemadatan fungsi lahan juga dapat dilakukan dengan pembangunan vertikal seperti pada permukiman atau pertokoan. Pada tahun 2022 secara spasial dapat dilihat dengan jelas wilayah dengan daya tampung yang sudah tidak memadai terdapat di wilayah perbatasan Kabupaten Bantul dan Kota Yogyakarta. Kota Yogyakarta merupakan kota pusat pertumbuhan penduduk dan perekonomian di Daerah Istimewa Yogyakarta. Akibat ledakan aktivitas dan perkembangan wilayah di Kota Yogyakarta, kecamatan di Bantul yang berbatasan langsung terkena dampak perkembangannya. Selain akibat dari adanya interaksi yang kuat dengan Kota Yogyakarta, aksesibilitas berupa jalan utama juga menjadi faktor dalam perkembangan wilayah. Pada tahun 2032 dapat dilihat pertambahan kecamatan yang tidak dapat menampung kebutuhan ruang mengikuti arah jalan utama di Daerah Istimewa Yogyakarta. Kecamatan tersebut terdiri dari Kecamatan Jetis dan Kecamatan Bambanglipuro. Perkembangan di tengah ini sangat menjelaskan bahwa terdapat aliran masyarakat, barang maupun jasa dari bagian utara Kabupaten Bantul ke bagian selatan Kabupaten Bantul sebagai zona pariwisata dan perikanan Kabupaten Bantul. Aksesibilitas merupakan kunci terjadinya interaksi antar wilayah yang menyebabkan wilayah yang berdekatan dengan jalan utama memiliki perkembangan yang pesat.

 

  1. Penutup

Ketersediaan lahan di Kabupaten Bantul akan semakin berkurang seiring bertambahnya tahun. Pada tahun 2022 diprediksikan Kecamatan Bantul, Kecamatan Sewon, Kecamatan Kasihan dan Kecamatan Banguntapan yang memiliki interaksi yang kuat dengan Kota Yogyakarta sudah tidak dapat menampung kebutuhan ruang di kecamatannya. Selain keempat kecamatan tersebut terdapat Kecamatan Sanden di yang merupakan kecamatan dengan kondisi geografis pesisir yang memiliki pertumbuhan sangat cepat sehingga sudah tidak dapat menampung kebutuhan ruang kecamatan tersebut pada tahun 2022. Dalam teknik alokasi ruangnya, kecamatan yang sudah tidak dapat menampung dan mengakomodasi perkembangan wilayah dapat melakukan pengembangan intensifikasi dengan melakukan perubahan pemanfaatan lahan atau pemadatan fungsi lahan. Sedangkan kecamatan dengan daya tampung yang masih memadai masih dapat melakukan perkembangan wilayah secara ekstensifikasi. Melalui analisa daya tampung wilayah ini dapat dijadikan sebagai dasar perencanaan penataan ruang wilayah agar dapat tercipta wilayah dengan perkembangan dan pembangunan yang berkelanjutan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s